Total Tayangan Laman

Senin, 21 November 2011

Fana', baqa' dan ittihad

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dikalangan sufi, Abu Yazid al-Bustami adalah orang pertama yang mencetuskan konsep al-fana’, al-baqa’ dan al-hulul. Karena untuk memasuki alam tasawuf yang disebut dengan ittihad harus terlebih dahulu melewati tangga itu. Selama belum dapat mencapai ityu, maka tidak akan bisa menyatu dengan Tuahn. Konsep fana’ merupakan tahapan awal yang berarti meleburkan diri. Kalau seorang sufi ingin mencapai tingkat ittihad, maka tahapan al-fana’ ini merupakan bagian yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang Sufi. Segolongan penganut tasawuf menyebutkanm bahwa tujuan utama yang menjadi inti ajaran tasawuf adalahs ampai pada zat al-Haqq dan bahkan bersatu dengan Tuhan. Jad semua aktifitas ketasawufan langsung atau tidak langsung pasti berkaitan dengan penghayatan fana’ dan ma’rifat pada zat Allah. Jadi ma’rifat itu bukan tanggapan atau pengalaman kejiwaan, yakni suatu tanggapan atau pengalaman kejiwaan sewaktu mengalami fana’. Dengan sampainya seseorang sufi ketingkat ma’rifat, ia pada \hakikatnya telah dekat benar dengan Tuhan, sehingga akhirnya ia bersatu dengan Tuhan yang disebut dengan istilah ittihad. Tetapi sebelum seroang sufi bersatu dengan Tuhan, ia harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya, dalam tasawuf disebut dengan istilah fana’.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan fana’, baqa’ dan ittihad?
2. Bagaimana pandangan al-Qur’an tentang fana’, baqa’ dan ittihad?
3. Bagaimana pemikiran Abu Yazid al-Bustami tentang fana’, baqa’ dan ittihad?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fana’ dan Baqa’
Fana’ berasal dari kata Fana-yafna-fana’ yang berarti hilang, hancur. Yang dimaksud dengan al-fana’ ialah penghancuran perasaan atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan tentang makhluk lain di sekitarnya. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian juga makhluk lain tetap ada, tetapi ia tidak sadar lagi tentang wujud mereka, bahkan juga tentang wujud dirinya sendiri. Disini pulalah tercapainya al-ittihad. Sedangkan al-baqa’ berarti tetap, terus hidup, merupakan kelanjutan wujud yang merupakan satu mata rantai dengan al-fana’ yang senantiasa diikuti oleh al-baqa’, hak ini dapat dilihat dari faham-faham sufi: “Para sufi mensaratkan dengan kata al-fana sebagai hilangnya sifat-sifat tercela dan kata al-baqa adalah terbitnya sifat-sifat terpuji”.

B. Ajaran Sufi tentang Fana’ dan Baqa’
Bagi sufi, fana’ adalah tidak dikenalinya sifat-sifat seseorang oleh yang bersangkutan sendiri. Dan baqa’ adalah pengenalan hal serupa dengan sifat Tuhan. Di dalam al-fana’ seseorang tidak memiliki kesadaran tentang dirinya, artinya bagi dirinya sendiri yang bersangkutan tidak merasa ada, tetapi ia hanya menyadari sekedar sebagai yang mewujudkan, yang diwujudkan dan perwujudan. Dalam fana’, “Pada awalnya lenyap kesadaran akan diri dan sifat-sifat pribadinya lantaran telah menghayati sifat-sifat Allah, lalu lenyapnya kesadaran akan penghayatan terhadap sifat-sifat Allah, lantaran telah mulai menyaksikan keindahan zat Allah, kemudian akhirnya lenyap kesadaran akan ke-fana’-annya itu sendiri lantaran telah merasa lebur menyatu dalam wujud Allah”.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa fana’ itu ada tiga tingkatan yaitu:
a. Perubahan moral, yaitu suatu peralihan moral dari sifat-sifat tercela dengan jalan mengendalikan nafsu-nafsu dengan segala keinginannya.
b. Penghayatan kejiwaan, yaitu lenyapnya kesadaran terhadap segala sesuatu yang ada di alam sekelilingnya baik pikiran, perbuatan dan perasaan, Lantaran kesadaran telah berpusat dengn penghayatan pada Tuhan.
c. Lenyapnya kesadaran dirinya lantaran terhisap kepada kesadaran serba Tuhan, yaitu lenyapnya kesadaran akan keberadaan dirinya,. Puncak tertinggi pada fana’ ini tercapai ketika kesadaran akan ke-fana’-annya itu sendiri telah lenyap.

C. Al-Ittihad
Dengan tercapainya orang pada fana’ dan baqa’ maka sampailah ia kepada al-Ittihad. Al-Ittihad berasal dari kata ittahada-yattahidu-ittihad, yaitu: menyatukan. Dalam bahasa tasawuf ittihad diartikan sebagai suatu tingkatan dimana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan: suatu tingkatan dimana yang mencintai dan apa yang dicintai telah menjadi satu, Sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata “ya ana” (wahai aku).
Dalam al-ittihad yang dilihat hanya satu wujud. Sebenarnya ada dua wujud yang terpisah dari yang lain, karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad “identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu”.
Abu Yasid al-Bustami sebagai tokoh yang memperkenalkan faham al-ittihad (kesatuan antara manusia dengan Tuhan). Abu Yasid dinilai mencapai penghayatan manunggal dengan Tuhan. Hal ini lantaran beliau mengungkapkan syatahat yang menunjukkan bahwa Abu Yasid mengalami atau menghayati hal a-wahdah. Diceritakan, sejak kecil Abu Yasid mempelajari al-Qur’an, ketika sampai pada surah Luqman ayat 14 ia segera minta izin ke gurunya dan ibunya untuk mengembara, Ibunya mengizinkannya dan menjawab “Pergilah nak, dan jadilah kamu milik Allah” setelah itu al-Bustami pergi mengembara untuk berguru dan mengalami kehidupan sufi, ia mengunjungi kurang lebih 113 guru dalam masa 30 tahun. Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat Subuh Abu Yasid berkata pada orang-orang yang mengikutinya. Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa Abu Yasid telah gila. Menurut pandangan sufi, ketika mengucapkan kata-kata itu Abu Yasid sedang berada dalam keadaan Ittihad. Abu Yasid mengatakan “Aku” bukan sebagai gambaran dari diri Abu Yasid, tetapi sebagai gambaran Tuhan karena Abu Yasid telah bersatu dengan diri Tuhan. Dalam kata lain Abu Yasid dalam Ittihad berbicara dengan nama Tuhan, atau lebih tepat lagi Tuhan “berbicara” melalui lidah Abu Yasid. Oleh karena itu ia mengucapkan kata-kata yang kelihatannya mengandung pengakuan bahwa Abu Yasid adalah Tuhan.

D. Para Baqa’ dan Ittihad dalam Pandangan Al-Qur’an
Paham fana’ dan baqa’ yang ditunjukan untuk mencapai ittihad itu dipandang oleh Sufi sebagai sejalan dengan konsep menemui Tuhan. Fana’ dan baqa’ merupakan jalan menuju berjumpa dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (١١٠)
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-kahfi: 110)
Faham ittihad ini juga dapat dipahami dari keadaan ketika Nabi Isa ingin melihat Allah. Musa berkata: “Ya Tuhan, bagaimana supaya aku sampai kepada-Mu”. Tuhan berfirman: Tinggallah dirimu (lenyapkanlah dirimu), baru kamu kemari (bersatu). Ayat dan riwayat tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah SWT telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniah dan bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal shalih dan beribadah semata-mata karena Alllah, menghilangkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifa-sifat Allah, yang kesemuannya ini tercakup dalam konsep fana dan baqa’.

E. Pemikiran Abi Yazid al-Bustami tentang Fana’, Baqa’ dan Ittihad
Menurut Ab Yazid, manusia pada hakikatnya seesensi dengan Allah. Dapat bersatu dengan-Nya apabila dia mampu meleburkan eksistensi (keberadaannya). Sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana’ an-nafs), adalah hilangnya kesadaran kemanusiaannya dan menyatu kepada irodah Allah.
Fana’nya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk lain. Sebenarnya dirinya tetap ada, dan demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya.
Dari pengertian ini terlihat bahwa yang lebur dan fana’ itu adalah kemampuan atau kepekaan menangkap yang bersifat materi dan indrawi sedangkan materi atau jasad manusianya tetap utuh dan sama sekali tidak hancur. Jadi, yang hilang hanyalah kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Apabila seroang sufi telah berada dalam keadaan fana’ dalam pengertian tersebut di atas, maka pada saat itu maka ia telah dapat menyatu dengan Tuhan sehingga wujudnya kekal dan baqa’. Di dalam perpaduan itu ia menemukan hakikat-hakikat jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari Tuhan itulah yang dimaksud dengan ittihad, paham ini timbul sebagai konsekuensi lanjut dari pendapatnya, bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari nur illahi, AKU-nya manusia itu adalah pancaran dari Yang Maha Esa. Barang siapa yang mampu membebaskan diri dari alam lahiriyah, atau mampu meniadakan pribadinya dari kesadaran sebagai insan, maka ia akan meperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan tunggal, atau mampu meniadakan pribadina kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan tunggal, yang dilihat dan dirasakan hanya satu. Keadaan seperti itulah yang disebut ittihad, yang oleh Bayazid disebut tajrid fana attauhid, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantari suatu apapun.
Tapi ciri yang mendominasi kefana’an Abu Yazid adalah sinarnya kepada segala sesuatu yang selain Allah dari pandangannya, dimana seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi menyaksikan karena dirinya terlebur dengan dia, yang disaksikannya. Inilah yang diungkapkannya dengan “pengabaian aturan-aturannya sendiri, kefana’an identitas dan keghaiban bekas-bekas”. Dan pada keadaan inilah terjadinya penyatuan dengan Yang Maha Benar.
Berbicara ana’ dan baqa’ ini erat akitannya ak-ittihad, yakni penyatuan batin rohaniah dengan Tuhan, karena tujuan dari fana’ dan baqa’ itu sendiri adalah ittihad itu. Hal yang demikian sejalan dengan pendapat Mustafa Zuhri yang mengatakan bahwa faa’ dan baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan membicarakan dengan paham ittihad. Dalam ajaran ittihad sebagai salah satu metode tasawuf. Sebagai dikatakan oleh al-Badawi, yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya yang ada ada dua wujud yang terpisah dari yang lain. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad ini bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai (manusia) dengan yang dicintai (Tuhan) atau tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam situasi ijtihad yang demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, saat suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicipta telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka, dapat memanggil yang satu.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pokok-pokok ajaran Tasawufnya adalah fana berasal dari kata fabiya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur. Sedangkan baqa’ berasal dari kata baqiya. Arti dari sgi bahasa adalah tetap. Sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Sedangkan ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuh tahapan fana’ dan baqa’.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Khalik, Abdurrahman. Penyimpangan-Penyimpangan Tasawuf. Jakarta: Robbani Press, t.t.

Ibrahimm Gazur Illahi. Mengungkap Misteri Sufi Besar al-Halaj dan al-Haq, Terj. Jakarta: Rajawali Press, 1986.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar